Mengapa Penting Memahami Macam Macam Grade Kopi Bagi Pecinta Kopi

W
widya
Mengapa Penting Memahami Macam Macam Grade Kopi Bagi Pecinta Kopi
Blog

Guys, lo pada tau gak sih kalo dunia kopi tuh ternyata gak sesederhana nongkrong di kafe sambil ngopi-ngopi doang? Buat lo yang udah mulai jatuh cinta sama kopi, pasti pernah denger istilah-istilah kayak grade kopi, specialty coffee, atau grade 1 sampe grade 5. Nah, pertanyaannya sekarang, kenapa sih kita sebagai pecinta kopi harus paham soal macam macam grade kopi? Apakah ini cuma urusan teknis buat para barista atau petani aja? Jawabannya: NO BANGET! Ini tuh penting banget buat lo semua yang pengen menikmati secangkir kopi dengan lebih meaningful.

Bayangin aja, lo beli biji kopi mahal-mahal, tapi ternyata grade-nya rendah, alhasil rasa kopi yang lo dapat tuh gak maksimal. Ngeselin kan? Makanya, paham soal grade kopi tuh kayak punya GPS di dunia kopi, lo bisa tau mana biji kopi yang worth it buat dibeli, mana yang cocok buat metode seduh tertentu, dan lo juga bisa ngerti kenapa harga kopi bisa vary banget dari yang puluhan ribu sampe ratusan ribu per kilogram.

Di artikel kali ini, gue bakal bahas tuntas semua yang perlu lo tau tentang macam macam grade kopi. Dari pengertian dasar, klasifikasi grade, faktor yang ngaruh, sampe tips milih grade kopi yang pas buat kebutuhan lo. Udah siap? Yuk, kita gas!

Apa Itu Grade Kopi Sebenarnya?

Oke, kita mulai dari yang dulu. Grade kopi itu adalah sistem klasifikasi yang dipake buat nentuin kualitas biji kopi berdasarkan berbagai parameter. Parameter ini tuh bisa berupa ukuran biji, jumlah cacat (defect), altitude atau ketinggian tempat tumbuh, metode processing, sampe hasil cupping test. Intinya, grade kopi ini kayak laporan rapor buat biji kopi, yang nunjukin seberapa bagus kualitasnya.

Setiap negara penghasil kopi punya standar grading yang beda-beda. Misalnya, Amerika Latin pake sistem yang beda sama Asia atau Afrika. Tapi secara umum, ada beberapa standar internasional yang jadi acuan, kayak standar dari Specialty Coffee Association (SCA). SCA tuh punya sistem grading yang cukup strict, di mana biji kopi bisa dibilang specialty grade kalo skor cupping-nya di atas 80 dari skala 100. Kalo di bawah itu, masuk ke kategori commercial grade atau grade kopi komersial.

Nah, ngerti soal grade ini penting banget karena bakal ngaruh ke rasa, aroma, body, acidity, dan overall experience pas lo ngopi. Mending lo minum kopi yang udah teruji kualitasnya kan daripada asal-asalan? Jelas dong!

Macam Macam Grade Kopi yang Wajib Lo Tau

Biar lo gak bingung, berikut gue jabarin macam macam grade kopi yang umum dipake di industri kopi dunia. Ada yang based on skor cupping, ada juga yang based on jumlah defect atau ukuran biji.

1. Specialty Grade (Grade Spesial)

Ini adalah grade tertinggi dalam dunia kopi. Biji kopi specialty grade harus memenuhi standar ketat dari SCA, yaitu:

  • Skor cupping minimal 80 dari 100 poin
  • Zero primary defect alias gak ada cacat utama
  • Maksimal 3 secondary defect per 300 gram sampel
  • Ukuran biji seragam dengan toleransi tertentu
  • Kelembaban biji antara 9-12%
  • Harus punya flavor profile yang unique, bersih, dan kompleks

Kopi specialty ini biasanya berasal dari single origin atau satu daerah tertentu, dengan traceability yang jelas. Lo bisa tau persis dari kebun mana, siapa petaninya, bahkan tanggal panennya. Harga kopi specialty bisa mulai dari Rp150.000 sampe Rp500.000 per kilogram, bahkan lebih untuk kopi yang langka banget kayak Geisha atau kopi dari Panama.

2. Premium Grade (Grade Premium)

Antara specialty dan komersial, ada yang namanya premium grade. Grade ini biasanya punya skor cupping antara 75-79. Kualitasnya masih oke banget, cuma mungkin ada sedikit kekurangan dalam hal konsistensi atau flavor complexity. Banyak juga roastery yang jual kopi premium grade dengan harga yang lebih terjangkau, cocok buat lo yang pengen kopi enak tapi budget terbatas.

3. Commercial Grade (Grade Komersial)

Nah, kalo yang ini adalah grade yang paling umum di pasaran. Kopi komersial punya skor cupping di bawah 75. Biasanya biji kopi ini punya banyak defect, ukuran gak seragam, dan flavor profile yang cenderung flat atau bahkan ada off-flavor. Ini tuh yang biasa lo temuin di supermarket, kopi sachet, atau kafe pinggir jalan yang pake kopi murahan. Commercial grade ini juga yang biasa dipake buat kopi instan atau kopi campuran.

4. Grade Berdasarkan Jumlah Defect

Di beberapa negara kayak Indonesia, Vietnam, atau Brazil, grading juga dilakukan berdasarkan jumlah defect per 300 gram sampel. Berikut tabelnya:

GradeJumlah Defect (per 300g)Keterangan
Grade 10-11Kualitas terbaik, hampir tanpa cacat
Grade 212-25Kualitas baik, masih layak buat specialty
Grade 326-44Kualitas sedang, biasanya komersial
Grade 445-80Kualitas rendah, banyak defect
Grade 581-150Kualitas paling rendah, biasanya buat kopi instan

5. Grade Berdasarkan Ukuran Biji (Screen Size)

Selain defect, ukuran biji juga jadi patokan grading. Biji yang lebih besar biasanya punya kualitas lebih baik karena punya lebih banyak ruang buat perkembangan flavor. Ukuran biji diukur pake screen dengan nomor tertentu:

  • Screen 18-20 (ukuran 7,1-8 mm) = Large Bean, biasanya grade tinggi
  • Screen 16-17 (ukuran 6,3-6,7 mm) = Medium Bean
  • Screen 14-15 (ukuran 5,5-5,9 mm) = Small Bean, grade lebih rendah
  • Screen 12-13 (ukuran 4,7-5,1 mm) = Pea Berry atau biji kecil

Di Indonesia, grading ukuran biji ini sering dipake buat kopi Robusta. Semakin besar ukuran biji, semakin tinggi grade-nya, dan semakin mahal juga harganya.

Kenapa Grade Kopi Itu Penting Banget?

Oke, sekarang lo udah tau macam macam grade kopi. Tapi mungkin lo masih mikir, "Emang kenapa sih gue harus peduli sama grade-grade ini?" Nah, ini dia alasan-alasannya:

Pertama, Kualitas Rasa. Grade kopi secara langsung ngaruh ke rasa kopi. Kopi dengan grade yang lebih tinggi punya flavor profile yang lebih bersih, kompleks, dan interesting. Lo bakal dapetin notes buah-buahan, floral, cokelat, atau karamel yang jelas. Sebaliknya, kopi grade rendah seringkali punya rasa yang pahit, earthy, atau bahkan bau apek. Jadi kalo lo pengen menikmati kopi dengan segambreng rasa, pilih yang grade-nya tinggi.

Kedua, Konsistensi. Kopi dengan grade tinggi udah pasti lolos quality control yang ketat. Jadi setiap kali lo seduh, rasanya bakal konsisten. Gak ada drama rasa enak sekarang tapi besok beda. Cocok banget buat lo yang suka nge-brew di rumah dan pengen hasil yang predictable.

Ketiga, Kesehatan. Biji kopi dengan defect tinggi bisa mengandung jamur atau mikotoksin yang berbahaya buat tubuh. Jamur ini bisa timbul kalo biji kopi gak diproses dengan baik. Dengan milih grade yang lebih tinggi, lo mengurangi risiko konsumsi zat-zat berbahaya. Jadi selain enak, juga lebih sehat!

Keempat, Mendukung Petani. Kopi specialty grade biasanya dibeli dengan harga yang lebih tinggi dari petani. Artinya, dengan beli kopi grade tinggi, lo secara gak langsung ikut mendukung kesejahteraan petani kopi. Petani jadi punya insentif buat ngasilin biji kopi yang berkualitas. Win-win solution kan?

Faktor-Faktor yang Ngaruh ke Grade Kopi

Gak semua biji kopi bisa dapet grade tinggi. Ada beberapa faktor yang ngaruh banget ke hasil grading. Yuk kita bahas satu-satu:

1. Ketinggian Tempat Tumbuh (Altitude)

Kopi yang ditanam di dataran tinggi (di atas 1.200 mdpl) biasanya punya kualitas lebih baik. Kenapa? Karena suhu yang lebih dingin bikin biji kopi matang lebih lambat, sehingga punya waktu lebih banyak buat ngembangin gula dan asam amino. Hasilnya? Flavor yang lebih kompleks dan acidity yang lebih bright. Makin tinggi tempat tumbuh, makin tinggi potensi grade-nya.

2. Varietas Kopi

Ada banyak varietas kopi kayak Typica, Bourbon, Caturra, CatuaĆ­, Geisha, dan lain-lain. Setiap varietas punya potensi flavor yang beda. Misalnya, Geisha terkenal dengan aroma floral dan tea-like, sementara Typica punya body yang lebih heavy. Varietas tertentu punya potensi buat dapet grade yang lebih tinggi.

3. Metode Processing

Cara ngolah biji kopi setelah dipanen juga ngaruh banget. Ada beberapa metode populer:

  • Washed Process: Biji kopi dikupas kulitnya, lalu difermentasi dan dicuci bersih. Hasilnya? Kopi yang clean, bright, dan acidity-nya jelas. Biasanya dapet grade tinggi.
  • Natural Process: Biji kopi dikeringkan bersama kulitnya. Hasilnya? Body yang lebih heavy, sweetness yang tinggi, tapi risikonya lebih gede buat defect.
  • Honey Process: Kombinasi washed dan natural. Biji kopi dikupas sebagian, lalu dikeringkan dengan lapisan lendirnya. Hasilnya? Sweetness yang balance dengan acidity yang moderate.

Metode processing yang bersih dan terkontrol bakal ngasilin grade yang lebih tinggi.

4. Faktor Pasca Panen

Mulai dari cara petani memetik buah kopi (selective picking vs strip picking), cara penjemuran, cara penyimpanan, sampe pengiriman. Semua tahapan ini ngaruh ke kualitas akhir biji kopi. Kalo ada kesalahan di salah satu tahap, grade kopi bisa turun drastis.

5. Kondisi Geografis dan Iklim

Tanah, curah hujan, sinar matahari, dan angin juga ngaruh. Kopi yang tumbuh di daerah vulkanis kayak di Jawa atau Sumatra biasanya punya mineral yang kaya, yang ngaruh ke flavor. Iklim yang stabil juga bikin biji kopi matang optimal.

Perbandingan Kopi Specialty vs Kopi Komersial

Biar lo makin paham, gue buatin tabel perbandingan antara kopi specialty dan kopi komersial:

AspekKopi Specialty GradeKopi Komersial Grade
Skor Cupping> 80< 75
Jumlah DefectMinimal (0-3 per 300g)Banyak (45+ per 300g)
Flavor ProfileKompleks, clean, uniqueFlat, sederhana, cenderung pahit
TraceabilityJelas, bisa dilacak ke kebun asalCampuran dari banyak sumber, sulit dilacak
HargaRp150.000 - Rp500.000+/kgRp30.000 - Rp80.000/kg
Metode SeduhCocok buat V60, AeroPress, manual brewCocok buat espresso mesin murah, kopi tubruk
KesehatanLebih aman, minim jamurRisiko kontaminasi lebih tinggi
Dukungan PetaniMendukung petani dengan harga lebih baikPetani dapat harga rendah dari tengkulak

Dari tabel di atas, jelas banget kan perbedaannya? Kalo lo serius sama kopi, pilihan lo udah pasti jatuh ke specialty grade. Tapi kalo lo cuma butuh kopi buat temen begadang atau campuran susu, komersial pun sebenernya oke-oke aja. Balik lagi ke kebutuhan dan budget lo.

Tips Memilih Grade Kopi yang Tepat Buat Kebutuhan Lo

Biar lo gak salah pilih, berikut gue kasih tips berdasarkan kebutuhan dan selera masing-masing:

Buat Lo yang Hobbiest dan Suka Eksperimen

Lo pasti butuh kopi specialty grade. Coba cari single origin dari berbagai daerah kayak Gayo Aceh, Kintamani Bali, Toraja Sulawesi, atau Flores. Masing-masing punya karakter unik yang seru buat dieksplorasi. Lo bisa bedain sendiri mana yang punya acidity citrus, body heavy, atau aftertaste yang manis. Recommended banget buat lo yang punya alat seduh manual kayak V60, Chemex, atau AeroPress.

Buat Lo Pemula yang Baru Belajar Ngopi

Mulai aja dari premium grade atau specialty grade yang mild dan gak terlalu kompleks. Cari kopi dengan roast level medium biar gak terlalu asam atau terlalu pahit. Kopi dari Brazil atau Colombia biasanya beginner-friendly banget karena punya flavor yang balance: ada cokelat, kacang-kacangan, dan sedikit buah. Lo bisa belajar ngidentifikasi rasa tanpa kewalahan sama acidity yang tinggi.

Buat Lo yang Butuh Kopi Buat Sehari-hari

Kalo lo daily drinker dan butuh kopi yang terjangkau, pilih kopi grade 2 atau premium grade. Ini tuh harga masih oke, rasanya juga lumayan enak buat diminum pagi-pagi. Lo bisa beli di roastery lokal yang jual kopi dengan harga Rp80.000 - Rp120.000 per kilogram. Cocok buat lo yang suka bikin espresso di rumah atau french press.

Buat Lo yang Punya Budget Ketat

Gak papa, lo masih bisa nikmatin kopi yang decent dengan milih kopi grade 3 atau komersial yang di-roast dengan baik. Carilah roaster yang jujur dan kasih tau asal-usul kopinya. Hindari kopi yang udah bau apek atau berjamur. Kalo perlu, beli dalam jumlah kecil dulu buat test quality-nya.

Buat Lo yang Peduli Lingkungan dan Petani

Pilih kopi yang punya sertifikasi kayak Fair Trade, Organic, atau Rainforest Alliance. Sertifikasi ini biasanya menjamin bahwa kopi diproduksi dengan cara yang ramah lingkungan dan petani dapat upah yang layak. Tapi inget, sertifikasi gak selalu jamin kualitas rasa. Lo tetap harus cek grade dan skor cupping-nya.

Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan Pecinta Kopi Soal Grade

Banyak banget orang yang salah paham soal grade kopi. Berikut beberapa kesalahan umum yang harus lo hindari:

1. Menganggap Grade = Harga. Banyak yang mikir kalo harga mahal otomatis grade-nya tinggi. Padahal belum tentu. Ada kopi yang dijual mahal karena faktor kelangkaan, brand, atau packaging, tapi grade-nya biasa aja. Jangan gampang percaya sama label tanpa cek detailnya.

2. Gak Ngecek Tanggal Roast. Grade tinggi tapi udah di-roast 6 bulan yang lalu? Rasanya pasti udah turun drastis. Kopi tuh punya masa terbaik, biasanya 2 minggu sampe 2 bulan setelah roast. Jadi pastiin lo beli kopi yang fresh.

3. Terlalu Fokus ke Ukuran Biji. Biji besar memang biasanya grade lebih tinggi, tapi bukan jaminan. Ada juga biji kecil yang punya rasa luar biasa. Misalnya kopi Pea Berry yang kecil-kecil tapi punya konsentrasi flavor yang tinggi.

4. Ngeremehin Kopi Lokal. Banyak yang mikir kalo kopi luar negeri pasti lebih bagus dari kopi Indonesia. Padahal Indonesia punya kopi-kopi kelas dunia kayak Kopi Gayo, Kopi Kintamani, dan Kopi Java yang sering dapet skor cupping di atas 85. Jangan underestimate kopi lokal, ya!

5. Gak Nanya Sama Penjual. Kalo lo beli kopi di roastery atau kafe, jangan sungkan buat nanya detail soal grade, asal, roast date, dan flavor profile. Penjual yang baik pasti bakal jelasin dengan detail. Ini penting banget biar lo gak salah beli.

Dampak Grade Kopi Terhadap Metode Seduh

Percaya atau gak, grade kopi juga ngaruh ke metode seduh yang cocok. Kopi dengan grade tinggi biasanya punya partikel yang lebih seragam dan densitas yang konsisten, jadi lebih mudah diekstrak secara optimal. Sebaliknya, kopi grade rendah dengan ukuran biji yang campur aduk bikin ekstraksi jadi gak merata, alhasil rasa jadi pahit atau asam yang gak balance.

Untuk kopi specialty grade, lo bisa pake metode seduh apa aja. Tapi yang paling recommended adalah manual brewing kayak V60, Kalita Wave, atau Chemex. Metode ini bisa nge-extract flavor kompleks dari biji kopi secara maksimal. Espresso juga oke, tapi butuh skill dan mesin yang mumpuni.

Untuk kopi premium grade, french press atau moka pot adalah pilihan yang pas. Metode ini lebih forgiving dan gak terlalu nuntut presisi. Lo tetep bisa dapet rasa yang enak meskipun grade-nya gak super tinggi.

Untuk kopi komersial grade, sebaiknya lo pake metode yang strong extraction kayak espresso (mesin rumahan) atau kopi tubruk. Atau lo bisa pake buat cold brew, di mana rasa pahit dan defect-nya bisa terminimalisir dengan perendaman lama di suhu dingin.

Intinya, sesuaikan metode seduh dengan grade kopi yang lo punya. Jangan maksain manual brew pake kopi grade rendah, ntar hasilnya bakal mengecewakan.

Masa Depan Grade Kopi di Indonesia

Indonesia sebagai salah satu penghasil kopi terbesar di dunia punya potensi gede buat ningkatin grade kopi nasional. Sayangnya, masih banyak petani yang belum paham soal standar grading internasional. Mereka lebih fokus ke kuantitas daripada kualitas. Akibatnya, banyak biji kopi Indonesia yang dijual dengan harga murah ke luar negeri, lalu di-roast dan dijual lagi dengan harga mahal sebagai specialty coffee.

Tapi tren sekarang mulai berubah. Makin banyak komunitas kopi, roastery, dan kafe yang ngasih edukasi ke petani soal pentingnya grade dan kualitas. Program-program kayak Direct Trade dan Farm to Cup mulai populer. Petani diajari cara petik selektif, cara fermentasi yang benar, dan cara grading sederhana. Hasilnya? Kopi Indonesia makin diakui di kancah internasional.

Buat lo sebagai konsumen, lo punya peran penting dalam perubahan ini. Dengan milih kopi grade tinggi dan beli langsung dari roastery yang transparan, lo ikut mendorong petani buat terus ningkatin kualitas. Jadi, yuk mulai sekarang lebih peduli sama grade kopi yang lo beli!

FAQ Seputar Macam Macam Grade Kopi

1. Apa bedanya grade kopi dengan roast level? Jangan-jangan sama aja?
Beda banget, cuy! Grade kopi itu ngukur kualitas biji kopi mentah (green bean) sebelum di-roast. Sedangkan roast level itu ngukur tingkat kematangan biji setelah di-roast, dari light, medium, sampe dark. Dua-duanya penting, tapi grade lebih nentuin potensi rasa, sementara roast nentuin gimana rasa itu diekstrak. Kopi grade tinggi kalo di-roast terlalu gelap, rasanya bisa rusak juga. Makanya mending pilih roaster yang ngerti gimana cara roast yang pas buat tiap grade kopi.

2. Apakah grade kopi selalu menentukan harga akhir di pasaran?
Gak selalu, bro. Harga kopi dipengaruhi banyak faktor: grade, kelangkaan, biaya produksi, biaya pengiriman, brand, packaging, dan margin penjual. Ada kopi grade 1 yang dijual murah karena lagi promo atau overstock. Ada juga kopi grade 2 yang dijual mahal karena pake packaging mewah. Tapi secara umum, makin tinggi grade, makin mahal harganya. Jadi jangan cuma ngeliat harga, cek juga grading-nya.

3. Gimana cara ngecek grade kopi kalo beli online? Kan gak bisa liat langsung.
Biasanya toko kopi online yang terpercaya bakal cantumin detail grade di deskripsi produk. Cari info kayak skor cupping, grade (1-5), asal daerah, ketinggian, varietas, dan metode processing. Kalo info ini gak ada, lo bisa chat penjual langsung dan tanya. Kalo penjualnya gak bisa jawab atau ngasih jawaban yang ngambang, mending cari toko lain yang lebih transparan. Jangan lupa juga cek review dari pembeli sebelumnya.

4. Apa grade kopi Indonesia terkenal bagus di mata dunia?
Oh jelas banget! Kopi Indonesia punya reputasi global yang mentereng. Kopi Gayo dari Aceh sering dapet skor 85+, bahkan ada yang sampe 90. Kopi Kintamani dari Bali juga juara karena punya acidity citrus yang unik. Kopi Toraja dari Sulawesi punya body heavy dengan aftertaste manis. Kopi Java juga legendaris banget, apalagi yang from the estate kayak Blawan atau Jampit. Tapi ya gitu, masih banyak kopi Indonesia yang dijual murah ke luar negeri. Makanya tugas kita sebagai konsumen buat ngapresiasi dan ngedukung kopi lokal dengan milih yang grade-nya oke.

5. Apakah grade kopi bisa berubah setelah disimpan lama?
Grade kopi itu melekat pada kualitas biji mentah, jadi gak berubah selama penyimpanan asalkan kondisinya ideal (suhu stabil, kering, gak kena sinar matahari langsung). Tapi rasa kopi setelah di-roast bakal menurun seiring waktu. Itulah kenapa roast date lebih penting buat lo yang mau ngopi. Kalo beli green bean, lo bisa simpen berbulan-bulan tanpa khawatir grade-nya turun. Tapi kalo beli roasted bean, usahakan konsumsi dalam 2-4 minggu setelah tanggal roast.

6. Apakah Robusta pasti grade-nya lebih rendah dari Arabica?
Gak juga, bro. Emang rata-rata Arabica punya potensi rasa yang lebih kompleks dan skor cupping yang lebih tinggi. Tapi ada juga Robusta berkualitas tinggi yang bisa dapet grade premium, terutama Robusta dari India atau Vietnam yang diolah dengan baik. Robusta biasanya punya body lebih heavy, kadar kafein lebih tinggi, dan rasa yang lebih earthy. Kalo lo suka kopi yang strong dan pahit, Robusta grade bagus bisa jadi pilihan. Tapi buat specialty coffee, Arabica tetep juaranya.

7. Berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menikmati kopi specialty grade setiap bulan?
Itu tergantung konsumsi lo. Kalo lo minum 1 cangkir per hari (sekitar 15 gram kopi), sebulan lo butuh kurang lebih 450 gram kopi. Kopi specialty grade rata-rata Rp150.000 - Rp250.000 per kilogram. Jadi sebulan lo keluar sekitar Rp70.000 - Rp120.000. Bandingkan sama beli kopi di kafe yang bisa Rp40.000 - Rp70.000 per cangkir. Jelas lebih irit kan kalo nge-brew sendiri di rumah? Plus lo juga dapet pengalaman ngopi yang lebih personal dan seru!

Kesimpulan

Jadi, sekarang lo udah tau kan kenapa penting banget buat memahami macam macam grade kopi? Ini bukan cuma soal angka atau label, tapi soal kualitas, rasa, kesehatan, dan dampak sosial. Dengan ngerti grade, lo bisa:

  • Milih biji kopi yang sesuai dengan selera dan budget lo
  • Mendapatkan pengalaman ngopi yang lebih maksimal dan memuaskan
  • Menghindari kopi berkualitas rendah yang bisa berbahaya buat kesehatan
  • Mendukung petani kopi lokal dan global yang berkomitmen pada kualitas
  • Ngikutin tren kopi dunia dengan lebih percaya diri

Intinya, dunia kopi tuh luas banget, dan grade kopi adalah salah satu pintu masuk buat lo yang pengen jadi true coffee lover. Jangan cuma jadi penikmat kopi pasif, tapi jadilah penikmat kopi yang cerdas dan kritis. Mulai sekarang, sebelum lo beli kopi, cek dulu grade-nya, tanya detailnya, dan pastiin lo dapet yang terbaik sesuai kebutuhan. Percaya deh, kopi yang enak bukan cuma bikin lo melek, tapi juga bikin lo happy dan proud.

Yuk, kita sama-sama ningkatin standar ngopi kita. Gak perlu jadi barista atau sommelier kopi buat ngerti grade. Cukup punya rasa penasaran dan kemauan buat belajar. Dari situ, lo bakal nemuin dunia kopi yang gak ada habisnya buat dieksplorasi. Selamat menikmati petualangan kopi lo, guys! Cheers!